Benarkah Dalam Islam, Istri tidak wajib masak, nyuci dll ??..Whattt !!

بسم الله الرحمن الرحيم

Semua ulama sepakat bahwa yang mencari nafkah, baik makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan kebutuhan yang layak adalah sepenuhnya kewajiban dari suami. sepakat ???..

dari kalimat yg saya tulis diatas saja sudah jelas, bahwa kewajiban memberi makan adalah bagian dari kewajiban memberi nafkah. namun kebanyakan suami (including abi ane sendiri…n_n) di indonesia menginterpretasikan bahwa kewajibannya hanya dengan memberikan…uang belanja, sehingga urusan masak, nyuci, ngepel, bersih2, and soon and soon adalah jadi tanggung jawab istri..

Lah kok gitu mas broe..trus tugas seorang istri apa dunk ????..

dalam madzhab kita ( syafi’i ) dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab karya Abu Ishaq Asy-Syirazi rahimahullah, di dalamnya disebutkan  ” Tidak wajib atas istri berkhidmat untuk membuat roti, memasak, mencuci dan bentuk khidmat lainnya, karena yang ditetapkan (dalam pernikahan) adalah kewajiban untuk memberi pelayanan seksual (istimta’), sedangkan pelayanan lainnya tidak termasuk kewajiban “.

maka ketika calon suami berucap ” saya terima nikahnya fulan bin…….dst “, maka hakikatnya dia hanya “membeli” kehalalan dari calon istrinya dalam hal (maaf ) pelayanan seksual saja. titik

dan tidak hanya madzhab kita saja yang berujar demikian..namun 4 madzhab sisanya pun mengatakan hal yang sama..

madzhab hambali :

Seorang istri tidak diwajibkan untuk berkhidmat kepada suaminya, baik berupa mengadoni bahan makanan, membuat roti, memasak, dan yang sejenisnya, termasuk menyapu rumah, menimba air di sumur. Ini merupakan nash Imam Ahmad rahimahullah. Karena aqadnya hanya kewajiban pelayanan seksual. Maka pelayanan dalam bentuk lain tidak wajib dilakukan oleh istri, seperti memberi minum kuda atau memanen tanamannya.

madzhab Hanafi :

Al-Imam Al-Kasani dalam kitab Al-Badai’ menyebutkan: Seandainya suami pulang bawa bahan pangan yang masih harus dimasak dan diolah, lalu istrinya enggan untuk memasak dan mengolahnya, maka istri itu tidak boleh dipaksa. Suaminya diperintahkan untuk pulang membawa makanan yang siap santap. Di dalam kitab Al-Fatawa Al-Hindiyah fi Fiqhil Hanafiyah disebutkan: Seandainya seorang istri berkata,”Saya tidak mau masak dan membuat roti”, maka istri itu tidak boleh dipaksa untuk melakukannya. Dan suami harus memberinya makanan siap santan, atau menyediakan pembantu untuk memasak makanan.

madzhab maliki :

Di dalam kitab Asy-syarhul Kabir oleh Ad-Dardir, ada disebutkan: wajib atas suami berkhidmat (melayani) istrinya. Meski suami memiliki keluasan rejeki sementara istrinya punya kemampuan untuk berkhidmat, namun tetap kewajiban istri bukan berkhidmat. Suami adalah pihak yang wajib berkhidmat. Maka wajib atas suami untuk menyediakan pembantu buat istrinya.

Mazhab Az-Zhahiri :

Dalam mazhab yang dipelopori oleh Daud Adz-Dzahiri ini, kita juga menemukan pendapat para ulamanya yang tegas menyatakan bahwa tidak ada kewajiban bagi istri untuk mengadoni, membuat roti, memasak dan khidmat lain yang sejenisnya, walau pun suaminya anak khalifah. Suaminya itu tetap wajib menyediakan orang yang bisa menyiapkan bagi istrinya makanan dan minuman yang siap santap, baik untuk makan pagi maupun makan malam. Serta wajib menyediakan pelayan (pembantu) yang bekerja menyapu dan menyiapkan tempat tidur.

Mungkin para ” bapak-bapak” pada komplain….mana hadistnya???

yang sabar ya pak, I know it’s hard acceptin the truth...n_n

karena one day, ini juga akan berlaku sama saya sendiri…T_T   ( just wait for the right time…n_n )

Ya, terus terang tidak ada ayat yang menjelaskan sedetail itu, begitu juga dengan hadits nabawi. Maksudnya, kita tidak akan menemukan ayat yang bunyinya bahwa yang wajib masak adalah para suami, yang wajib mencuci pakaian, menjemur, menyetrika, melipat baju adalah para suami. Kita tidak akan menemukan hadits yang bunyinya bahwa kewajiban masak itu ada di tangan suami. Kita tidak akan menemukan aturan seperti itu secara eksplisit.

Yang kita temukan adalah contoh real dari kehidupan Nabi SAW dan juga para shahabat. Sayangnya,memang tidak ada dalil yang bersifat eksplisit. Semua dalil bisa ditarik kesimpulannya dengan cara yang berbeda.

Misalnya tentang Fatimah puteri Rasulullah SAW yang bekerja tanpa pembantu. Sering kali kisah ini dijadikan hujjah kalangan yang mewajibkan wanita bekerja berkhidmat kepada suaminya. Namun ada banyak kajian menarik tentang kisah ini dan tidak semata-mata begitu saja bisa dijadikan dasar kewajiban wanita bekerja untuk suaminya.

Sebaliknya, Asma’ binti Abu Bakar justru diberi pembantu rumah tangga. Dalam hal ini, suami Asma’ memang tidak mampu menyediakan pembantu, dan oleh kebaikan sang mertua, Abu Bakar, kewajiban suami itu ditangani oleh sang pembantu. Asma’ memang wanita darah biru dari kalangan Bani Quraisy.

Dan ada juga kisah lain, yaitu kisah Saad bin Amir radhiyallahu ‘anhu, pria yang diangkat oleh Khalifah Umar menjadi gubernur di kota Himsh. Sang gubernur ketika di komplain penduduk Himsh gara-gara sering telat ngantor, beralasan bahwa dirinya tidak punya pembantu. Tidak ada orang yang bisa disuruh untuk memasak buat istrinya, atau mencuci baju istrinya.

lihatlah bagaimana Islam sangat memuliakan wanita, memberikan ruang yang luas bagi mereka untuk menikmati hidupnya. sehingga ngga ada alasan lagi bagi wanita untuk mengikuti -lagi lagi saya harus bilang ini- ” TREND dan MODE” wanita2 barat yang ingin bisa kerja diluar dan menghasilkan uang sendiri seperti yang saya tulis pada artikel saya sebelumnya tentang bagaimana misi musuh islam terhadap wanita muslimah ( click here for complete article ).

tapiiiiiiiiiiiiiiiiii…( waduh, kayanya ga enek nih..n_n )

ini bagian pentingnya..

” Surganya anak pada telapak kaki Ibunya, surganya istri terletak pada suaminya…artinya apa……

memang, saya panjang lebar menjelaskan bahwa istri tidak memiliki kewajiban diluar (maaf) hubungan badan, tapi ingatlah bahwa suami adalah salah satu ladang ibadah, sumber surga, ladang ibadah yang saya maksud disini yang mana jika istri dengan senang hati mengurusi suaminya dengan memasakkannya makanan, mencucikan pakaiannya, membuatkan kopi/teh, menjaga pergaulan ketika suami tidak ada, persis seperti yang dilakukan putri tercinta Rasulullah SAW, ummul mukminin, Fatimah Az-zahra R.Ah, beliau tidak menggunakan jasa pembantu dalam mengurusi kesibukan dirumah, karena beliau merasa bahwa suaminya lah surganya. seperti perkataan beliau : “Wahai kaum wanita Seandainya kamu mengerti kewajiban terhadap suamimu, tentu seorang isteri akan menyapu debu dari kedua telapak kaki suaminya dengan sebagian mukanya.”

namun lantas bagi para suami ( dan kita calon suami…n_n )  jangan pernah terbesit sedikitpun untuk memanfaatkan hal ini dengan semaunya…tidak mengerti keadaan istri…mengerti kalau istrinya sedang mengejar pahala dari Allah dengan cara yg saya sebut sebelumya, kita malah ongkang-ongkang, memanfaatkan kondisi tersebut, namun…( ni bagian paling sooo sweeeetnya )..n_n

bayangkan jika kita bisa masak, nyuci, nyapu, nyetrika, ngepel, Ngajarin anak, bareng sama Istri tercinta. walaupun ga tiap hari, tapi coba deh diprogram minimal 1 atau 2 minggu sekali, walaupun secara aku belum pernah ngerasain, but, trust me, it’s gonna work, bro, sis !!!..n_n

pasti hasilnya jadi keluarga yg bener2 sakinah, mawaddah dan warohmah…kaya lagunya maher zein yg ni nih…

for the rest of my life, i’ll be with u, i’ll stay by your side, honest and true,

for the rest of my time…..i’ll be lovin u”…n_n

والله اعلم

oleh : muhammad abrory

berbagai sumber

mohon sertakan Link Blog ane jika ingin copy paste…شكرا كثيرا

About these ads