permasalahan seputar puasa

بسم الله الرحمن الرحيم

habis terawih ini ana putuskan nge-blog dulu bentar, padahal biasanya tadarus di masjid sampe malem.. insya Allah habis selesai ini balik ke masjid buat tadarusan lagi ( klu ngga malem2 banget )..

kali ini ane mau share hal 2 yang berkenaan dengan puasa romadhon, ada beberapa hal yang buat sebagian orang masih menjadi pertanyaan, yakni :

1. Siapakah yang Diwajibkan Puasa?…

Puasa diwajibkan atas setiap orang Islam yang baligh, berakal, mukim (tidak bepergian), mampu dan tidak ada penghalang-penghalangnya. Orang kafir tidak diwajibkan puasa dan tidak sah puasa mereka.

2. bagaimana puasanya anak kecil ?

Anak kecil tidak diwajibkan puasa sehingga baligh, akan tetapi hendaklah dilatih puasa semampunya. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Pena diangkat dari tiga (golongan). Dari orang tidur sampai bangun, dari anak kecil hingga baligh dan dari orang gila sehingga sadar.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An Nasa-i dan dishahihkan oleh al Hakim) Seorang anak dikatakan baligh apabila ada salah satu diantara empat perkara:

a.Keluar air mani.
b.Tumbuh rambut disekitar kemaluan.
c. Mencapai usia lima belas tahun.
d.Apabila wanita maka ada perkara keempat, yaitu keluarnya darah haidh.

3. bagaimana puasanya Orang Gila atau Hilang Akal??

Orang gila atau orang yang hilang akalnya tidak diwajibkan puasa dan tidak diharuskan untuk mengqadha puasanya. Apabila seseorang kadang hilang akalnya dan kadang sadar maka dia diwajibkan puasa ketika sadar saja. seseorang yang berpuasa lalu pingsan sebentar di siang hari tidaklah batal puasanya.

4. bagaimana puasa Orang Tua yang Sudah Pikun ??

Orang tua yang sudah pikun dan tidak lagi bisa membedakan yang baik dan buruk tidaklah diwajibkan puasa dan tidak pula diwajibkan membayar fidyah (memberi makan orang miskin) karena dia bukan termasuk orang yang mukallaf (dibebankan untuk melaksanakan kewajiban), hukum orang seperti ini adalah seperti anak kecil. Apabila kadang pikun dan kadang sadar maka diwajibkan puasa ketika sadar saja.

5. bagaimana puasanya Musafir ( orang dalam perjalanan ) ??

Allah berfirman: “Dan barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari lain. Allah menginginkan kemudahan bagimu dan tidak menginginkan kesulitan bagimu.” (QS.Al Baqarah:185)

Hamzah bin Amr Al Aslamiy radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam: “Apakah boleh aku berpuasa dalam safar ( perjalanan ) ?-beliau Hamzah adalah orang yang banyak melakukan puasa-, maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:”Puasalah jika kamu mau dan berbukalah jika kamu mau.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata: “Aku pernah melakukan safar bersama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam di bulan Ramadhan, orang yang puasa mencela yang berbuka dan yang berbuka tidak mencela yang puasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Said Al Khudri radhiallahu ‘anhu: “Para sahabat berpendapat barangsiapa yang merasa kuat lalu puasa itu adalah baik dan barangsiapa yang merasa lemah kemudian berbuka itu juga baik.” (HR. At Tirmidzi, Al Baghawi, dengan sanad shahih) Yang lebih afdhal bagi musafir adalah melakukan yang paling mudah baginya (berpuasa atau berbuka), dan jika sama saja keduanya maka yang lebih afdhal adalah puasa karena membebaskannya dari tanggungan (hutang puasa) dan lebih bersemanagat karena dia puasa bersama-sama manusia.

Apabila puasa itu berat baginya maka hendaklah berbuka dan tidak berpuasa ketika safar. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Bukanlah suatu kebajikan melakukan puasa dalam safar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

6. bagaimana puasanya Orang Sakit ??

Orang sakit yang masih bisa diharapkan kesembuhannya ada tiga macam:

a.) Orang sakit yang tidak berat baginya puasa dan tidak berbahaya, maka diwajibkan atasnya berpuasa karena tidak ada alasan baginya untuk meninggalkan puasa.

b.) Orang sakit yang berat baginya puasa akan tetapi tidak berbahaya, maka hendaklah dia berbuka, sebagaimana firman Allah: “Dan barangsiapa yang sakit atau atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari lain. Allah menginginkan kemudahan bagimu dan tidak menginginkan
kesulitan bagimu.” (QS.Al Baqarah:185)

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Sesungguhnya Allah senang didatangi (dikerjakan) rukhsah (keringanan) yang Dia berikan, sebagaimana Dia membenci orang yang melakukan maksiat.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban dg sanad shahih). Dalam suatu riwayat lain : “Sebagaimana Allah senang diamalkannya perkara-perkara yang diwajibkan.” (HR. Ibnu Hibban, Al Bazzar, Ath Thabrani, dg sanad shahih)

c.) Orang sakit yang berbahaya baginya puasa, maka wajib atasnya berbuka dan tidak diperbolehkan puasa, sebagaimana firman Allah: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha
Penyayang kepadamu.” (QS. An Nisaa’:29)

Dan firman-Nya: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalam kebinasaan.” (QS. Al Baqarah:195)
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Sesungguhnya dirimu mempunyai hak atasmu.” (HR. Bukhari).

Beliau SAw bersabda pula: “Tidak boleh ada madharat (bahaya) dan tidak boleh menimbulkan madharat.” (HR. Ibnu Majah, Ad Daruquthni, dg sanad hasan. Lihat Jami’ul Ulum Wal Hikam, Ibnu rajab. hadits ke 32)

7. Orang yang Tidak Mampu Lagi Berpuasa

Orang yang tidak mampu lagi berpuasa seperti orang yang sudah tua dan orang yang sakit parah dan tidak bisa lagi diharapkan kesembuhannya seperti penyakit kanker dan semacamnya, tidak wajib atas mereka berpuasa karena mereka memang sudah tidak mampu lagi puasa. Aka tetapi wajib atas mereka untuk mengganti puasanya dengan memberikan makan setiap setiap harinya kepada seorang miskin. Boleh berupa makanan pokok seperti beras sebanyak satu mud setiap harinya. (satu mud = ¼ sha’, satu sha’ di Indonesia = 2,5 Kg. Jadi satu mud kurang lebih 625 gram).

Dan boleh pula diberikan berupa makanan yang sudah siap di makan. sebagaimana dalam atsar, bahwa Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata: “Kakek dan nenek tua yang tidak mampu puasa harus memberi makan setiap harinya kepada seorang miskin.” (HR. Bukhari)

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu : “Bahwasanya beliau lemah (tidak mampu untuk puasa karena sudah tua) pada suatu tahun, kemudian beliau membuat satu wadah tsarid (nama makanan) dan mengundang 30 orang miskin (untuk makan) hingga mereka keyang.” (HR. Ad daruquthni, dg sanad shahih)

8. bagaimana puasanya Wanita Hamil dan Menyusui ??

Wanita hamil dan menyusui apabila berat bagi mereka puasa atau khawatir terhadap anaknya maka diperbolehkan untuk tidak puasa dan menggantinya dengan memberikan makan kepada orang miskin setiap harinya tanpa berkewajiban mengqadha. Diriwayatkan Ad Daruquthni dan dishahihkannya (1/207) dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu, bahwasanya beliau berkata:”Wanita hamil dan menyusui (boleh) berbuka dan tanpa mengqadha”.

Diriwayatkan Ad Daruquthni pula dari jalan lain dengan sanad jayyid: Bahwasanya isteri Ibnu Umar ketika sedang hamil bertanya bertanya kepadanya (tentang puasa), lalu beliau menjawab:”Berbukalah dan berilah makan setiap harinya
satu orang miskin dan tidak usah kamu mengqadha’”.

Dari Siad bin Jubair, dari Ibnu Abbas dan Ibnu Umar berkata: “Wanita hamil dan menyusui (boleh) berbuka dan tanpa mengqadha.” (HR. Ad Daruquthni, dg sanad shahih. Lihat Irwa’ul Ghalil 4/17-25, karya Syaikh AL bani dan Shifat Shoum Nabi, karya Syaikh Salim Al Hilaly dan Syaikh Ali Hasa hal 80-85).

9. bagaimana puasa pekerja berat ??

Pekerjaan tidaklah menyebabkan bolehnya berbuka di bulan Ramadhan, karena berbuka hanya boleh bagi orang yang sakit dan musafir, haid, hamil dan menyusui jika keduanya (hamil dan menyusui, -pent) takut kepada dirinya (mudharat) atau terhadap anaknya.

Adapun pekerjaan maka hal tersebut tidak menyebabkan bolehnya berbuka. Orang yang bekerja tetap bekerja dan berpuasa. Jika dia tidak kuat untuk bekerja dalam keadaan berpuasa maka dia tinggalkan pekerjaan tersebut dan mencari pekerjaan yang lain yang bisa dia kerjakan sambil berpuasa. Dan pekerjaan itu banyak.

Kesimpulannya orang yang bekerja tidak boleh berbuka karena dia mukim, tidak safar, dan juga dia sehat tidak sakit, dan dia tidak mempunyai udzur dari udzur-udzur yang disyariatkan yang diberi keringanan bagi orang yang berpuasa untuk berbuka. Maka wajib bagi dia untuk bekerja dan berpuasa dan wajib bagi dia untuk mencari pekerjaan yang tidak bertentangan dengan puasanya. Dan pekerjaan itu banyak. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan memberikan jalan keluar dan memberi rizki padanya dari arah yang dia tidak sangka-sangka.

Dan kaum muslimin tetap berpuasa semenjak Allah wajibkan puasa, mereka bekerja dan berpuasa, mereka tidak meninggalkan puasa karena pekerjaan walaupun diketahui mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat dan sangat melelahkan, walaupun demikian tidak dikenal dalam sejarah Islam atau dari Salafus Shalih bahwasanya mereka berbuka karena pekerjaan sementara mereka sedang mukim dan sehat. Wallahu a’lam dan wajib atasmu wahai muslim untuk bertaubat kepada Allah atas yang telah engkau lakukan berupa ifthar (berbuka puasa) di siang hari bulan Ramadhan serta wajib atasmu untuk mengganti hari berbukamu.

(Fatwa Fadhilatus Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hal 137/nomor 210)

10. Orang yang Perlu Berbuka Untuk Menolong Orang Lain

Adakalanya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kebakaran, tenggelam dan semacamnya sehingga memmerlukan orang lain untuk menolong mereka dan yang menolong tidak akan mampu melaksanakan tugasnya apabila dalam keadaan puasa dan ia pun harus berbuka agar kuat dan bisa melaksanakan tugasnya dengan baik, maka orang yang menolong tersebut diperbolehkan berbuka dan bahkan diwajibkan demi menolong orang lain dari kebinasaan. Demikian juga seseorang yang berjihad fi sabilillah dan membutuhkan makan dan minum agar kuat diperbolehkan berbuka dan menggantinya (qadha) pada hari yang lain. (Majalis Ramadhan hal 59-60, karya Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin)