Adab terhadap orang tua ( Birrul Walidain )

بسم الله الرحمن الرحيم

Alhamdulillah, setelah hampir 2 bulan ngga sharing lantaran kesibukan kuliah dan kantor, malam ini ane bisa kembali sharing. dan kali ini yang akan ane bahas adalah persoalan adab – adab terhadap orang tua.

alasan ane angkat persoalan diatas itu karena keprihatinan ane terhadap lingkungan sekitar ane atas hilangnya sopan santun anak terhadap orang tua terutama ibu. kita bisa liat sendiri g usah jauh-jauh, liat di sekitar kita bagaimana teman-teman kita bersikap terhadap orang tua mereka, kebanyakan dari mereka saat ini bersikap dan menganggap orang tuanya seperti layaknya teman!!..terkadang menggunakan kata – kata kasar, nada tinggi serta tidak hormat dalam interaksi sehari – hari, padahal tidak tahukah mereka itu kalau tindakan dan perkataan kita seperti yg saya sebut diatas  bisa menyebabkan kita menjadi anak yang durhaka pada orang tua!!! yaaa…durhaka, yang nabi SAW bersabda : “Dosa besar itu adalah syirik kepada Alloh, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa seseorang dan sumpah palsu.” (HR. Bukhari).

sabda lain beliau : “Tidak akan masuk Surga orang yang durhaka, pecandu khamr (miras dan narkoba), dan orang yang mendustakan takdir.”

ada sebuah kisah dari Rasulullah SAW mengenai seorang anak yang demi Allah anak ini tidak ada niatan sama sekali mendurhakai orang tuanya, namun karena kesalahfahaman, ibunya sampai sakit hati dan mendoakan kejelekan terhadapnya…berikut kisahnya Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam beliau bersabda:

“Tidak ada yang berbicara di dalam buaian (anak bayi yg bisa berbicara ), kecuali hanya tiga orang, yaitu: Isa putra Maryam, bayi yang menyelamatkan Juraij. Juraij adalah seorang yang taat beribadah. Dia membangun tempat ibadah dan dia selalu berada di dalamnya. 

Suatu saat, ibunya datang sedang ia tengah mengerjakan shalat. Sang ibu berkata, ‘Hai Juraij.’ Juraij berkata(dalam hati),

‘Ya Rabb-ku, ibuku atau aku teruskan shalatku?’ Lalu dia meneruskan shalatnya sedang ibunya kembali pulang.

Dan pada keesokan harinya ibunya datang lagi dan dia pun tengah mengerjakan shalat.

Ibunya memanggil, ‘Hai Juraij.’ Juraij pun berkata (di dalam hati), ‘Ya Rabb-ku, ibuku atau aku teruskan shalatku? Maka ia tetap meneruskan shalatnya.

Dan pada hari berikutnya, ibunya datang lagi pada waktu Juraij tengah mengerjakan shalat. Maka ibunya pun memanggil, ‘Hai Juraij.’ Juraij pun berkata, ‘Wahai Rabb-ku, ibuku atau aku teruskan shalatku?’

Lalu ia tetap meneruskan shalatnya. Maka ibunya berdoa, ‘Ya Alloh, janganlah Engkau mematikannya sehingga dia melihat wajah (berurusan dengan) pelacur.’

Kemudian orang-orang Bani Israil memperbincangkan Juraij ini dan ibadahnya. Pada waktu itu ada seorang wanita pelacur yang kecantikannya menjadi idola. Pelacur itu berkata, ‘Seandainya kalian menghendaki, niscaya aku sanggup menguji Juraij.’ Kemudian wanita itu datang dan mengganggu Juraij, tetapi dia (juraij) tidak sedikitpun menoleh kepadanya. 

Selanjutnya wanita itu datang kepada seorang penggembala dan mengajaknya ke tempat ibadah Juraij dengan menyerahkan diri kepada penggembala itu untuk di zinahi. Dan penggembala kambing itupun mau memenuhi ajakan wanita tersebut hingga akhirnya wanita itu hamil.

Ketika wanita itu melahirkan seorang bayi, dia berkata, ‘Bayi ini adalah hasil hubunganku dengan Juraij.’

Kemudian orang-orang Bani Israil itu datang kepada Juraij dan memaksanya untuk turun, lalu mereka menghancurkan tempat ibadahnya itu serta memukulinya.

Juraij berkata, ‘ Mengapa kalian berbuat seperti ini?’ Mereka menjawab, ‘Engkau telah berbuat zina dengan pelacur itu sehingga dia melahirkan seorang bayi dari dirimu.’ Juraij berkata, ‘Mana bayi itu?’ Mereka membawa anak bayi itu dan Juraij berkata, ‘Tunggu dulu, saya akan mengerjakan shalat.’

Juraijpun shalat dan setelah selesai, Juraij datang kepada bayi itu, lalu dia tekan perut bayi tersebut sambil bertanya, ‘Wahai bayi, siapakah bapakmu?’

Bayi itu menjawab, ‘Si Fulan, seorang penggembala.’ Kemudian orang-orang Bani Israil itu menerima perkataan Juraij, lalu mencium dan meminta maaf kepada Juraij seraya berkata, ‘Kami akan membangunkan sebuah tempat ibadah dari emas untukmu.’

 ‘Jangan, bangunkan kembali tempat ibadahku dari tanah seperti semula.’ sahut Juraij. Maka merekapun membangunkan tempat ibadah untuk Juraij. (HR. Bukhari dan Muslim)

fenomena “aneh” lainnya adalah  sekarang ini kita menyaksikan sebagian pemuda yang begitu tunduk kepada isteri mereka, sementara mere ka durhaka kepada ibu mereka. Dan mereka tidak menyadari bahwasanya akan datang suatu hari dimana mereka akan membutuhkan bakti anak-anak mereka, sebagaimana orang tua mereka sekarang mengharapkan bakti dari mereka..naudzubillah!!

jadi bagaimana seharusnya kita bersikap??

sejatinya Birrul Walidain ( berbagti pada orang tua ) adalah mentaati kedua orang tua didalam semua apa yang mereka perintahkan kepada engkau, selama tidak bermaksiat kepada Allah, dan Al ‘Uquuq dan menjauhi mereka dan tidak berbuat baik kepadanya.” (Disebutkan dalam kitab Ad Durul Mantsur 5/259)

dan  Berkata Imam Al Qurtubi mudah-mudahan Allah merahmatinya: “Termasuk ‘Uquuqul walidain (durhaka pada orang tua)  adalah menyelisihi/ menentang keinginan-keinginan mereka dari (perkara-perkara) yang mubah ( perihal sehari – hari ), sebagaimana Al Birr (berbakti) kepada keduanya adalah memenuhi apa yang menjadi keinginan mereka. Oleh karena itu, apabila salah satu atau keduanya memerintahkan sesuatu, wajib engkau mentaatinya selama hal itu bukan perkara maksiat, walaupun apa yang mereka perintahkan bukan perkara wajib tapi mubah pada asalnya, demikian pula apabila apa yang mereka perintahkan adalah perkara yang mandub (disukai/ disunnahkan). (Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an Jil 6 hal 238).

sehingga memang sebuah kewajiban bagi kita untuk berbagti, mentaati, menghormati dan mengasihi mereka.

mengapa wajib?? karena Allah SWT sendiri yang memerintah dengan jelas dalam firmannya :

contoh kecilnya adalah saat kita disuruh oleh ibu untuk melakukan sesuatu maka, jangan lah sampai sekali – kali kita mengatakan ” ahh, ntar nah bu!!”…ngomong “ahh” aja ngga boleh masa sampe kita berbicara yang lebih kasar dari itu sih!!!!!!!!!!!!!..

tapi faktanya akhi…sebagian besar anak sekarang melakukan yang “lebih” dari itu……naudzubillah!!!!!!!!

sekedar sharing dan bukannya niat menyombongkan diri karena sombong itu hanya pantas terhadap dzatnya Allah SWT..ane berusaha semaksimalnya untuk tidak pernah mengecewakan meraka, terutama ummi ane, sampe pernah suatu hari dulu dalam  kondisi hujan -hujan dan ngga ada payung  untuk digunakan (eks hilang), ane disuruh pergi ke warung yang jaraknya 50 meter dari rumah untuk beli sesuatu…langsung saat itu juga tanpa ngomong banyak ana langsung meluncur tanpa mikir dulu mau pinjem payung siapa…

tapi percayalah akhi….bahwa apapun bagti yang kita lakukan terhadap orang tua, kita tidak akan pernah bisa membalas Begitu besarnya  jasa kedua orang tua kita terhadap kita…..

Di dalam hadits yg diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan bahwa ketika sahabat Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma melihat seorang menggendong ibu untuk tawaf di Ka’bah dan ke mana saja ‘Si Ibu’ menginginkan, orang tersebut bertanya  kpd Abdullah, “Wahai Abdullah bin Umar, dgn peruntukanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku.?” Jawab Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, “Belum, setetespun engkau belum dpt membalas kebaikan kedua orang tuamu” [Shahih Al Adabul Mufrad No.9]

ciumlah kening ibumu sekarang!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

oleh : Muhammad Abrory

berbagai sumber

m0hon sertakan link blog ane jika ingin copy paste…..(n_n)V

Syukron…….